KERACUNAN ORGANOFOSFAT PDF

kimia seperti organofosfat, yang sering digunakan sebagai pestisida. Pemeriksaan ini selain dapat membantu menegakkan diagnosis keracunan, juga dapat. ANALISIS FAKTOR RISIKO YANG BERPENGARUH TERHADAP KEJADIAN KERACUNAN PESTISIDA ORGANOFOSFAT PADA PETANI PENYEMPROT HAMA. Analisis Faktor Risiko Keracunan Pestisida Organofosfat Pada Keluarga Petani Hortikultura di Kecamatan Ngablak Kabupaten Magelang.

Author: Dakree Arashijar
Country: Latvia
Language: English (Spanish)
Genre: Personal Growth
Published (Last): 1 July 2009
Pages: 252
PDF File Size: 7.40 Mb
ePub File Size: 8.11 Mb
ISBN: 394-8-60712-226-8
Downloads: 19571
Price: Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader: Arashilabar

Perkembangan serta peningkatan pembangunan nasional Indonesia didukung dengan meningkatnya sektor industrialisasi, yang tentu memerlukan ketersediaan sarana-sarana yang mendukung lancarnya proses industrialisasi itu sendiri, dan salah satu cara adalah dengan meningkatkan sektor pertanian. Sektor pertanian merupakan sektor andalan di Indonesia, bahkan juga di dunia.

Fakta bahwa daerah iklim di bumi berdasarkan pada banyaknya sinar matahari yang masuk terbagi menjadi 4, yaitu:. Iklim tropis hanya mengalami 2 musim sepanjang tahunnya, yaitu musim kemarau dan musim hujan.

Dengan hanya mengalami 2 musim, maka daerah dengan iklim tropis dapat melakukan kegiatan bercocok tanam sepanjang tahun. Dengan fakta tersebut diatas maka Indonesia selayaknya dapat organofosrat gudang pangan dunia.

Indonesia bisa melakukan kegiatan bercocok-tanam sepanjang tahunnya. Namun, pada kenyataannya potensi Indonesia, dimana seharusnya organofpsfat mensuplai pangan baik dalam maupun luar negeri, belum bisa memanfaatkan potensi tersebut dengan baik. Kenyataan yang terjadi di Indonesia saat ini, banyaknya busung lapar, mayoritas masyarakat Indonesia memiliki penghasilan dibawah rata-rata, masih banyak desa-desa tertinggal dan Indonesia mengimport beberapa komoditas pertanian guna mencukupi kebutuhan pangan Indonesia.

Melihat kenyataan yang terjadi di Indonesia khususnya pada sektor pertanian, maka ada sesuatu yang salah yang terjadi pada komoditas hasil panen dan juga lahan pertanian Indonesia. Untuk itu, perlu kita mencari beberapa faktor yang memungkinkan turunnya produktivitas baik secara kuantitas maupun kualitas dari produk pertanian Indonesia.

Pemberian tambahan pestisida pada suatu lahan, merupakan aplikasi dari suatu teknologi yang pada saat itu, diharapkan teknologi organogosfat dapat membantu meningkatkan produktivitas, membuat pertanian lebih efisien dan ekonomis.

Namun, pestisida dengan intensitas pemakaian yang tinggi, dan dilakukan secara terus-menerus pada setiap musim tanam akan menyebabkan beberapa kerugian, antara lain residu pestisida akan terakumulasi pada produk-produk pertanian dan perairan, pencemaran pada lingkungan pertanian, penurunan produktivitas, keracunan pada hewan, keracunan pada manusia, berdampak buruk terhadap kesehatan manusia.

Manusia akan mengalami keracunan, baik akut maupun kronis yang berdampak pada kematian. Bahan-bahan kimia, telah dapat dibuktikan dengan nyata dan jelas memberi dampak buruk, dalam hal ini pestisida. Namun, pada negara-negara berkembang, telah sadar benar bahwa bahan kimia justru sebagai penyebab utama terjadinya pencemaran lingkungan. Adapun kendala-kendala yang terjadi, antara lain: Melihat dari fakta dan dilema di masyarakat Indonesia, untuk itu, perlu diketahui peranan, pengaruh serta penggunaan pestisida secara baik dan benar, sehingga tidak akan menimbulkan pencemaran pada lingkungan pertanian, dan juga kesehatan manusia serta lingkungannya.

Adalah semua bahan yang digunakan untuk:. Pestisida dalam praktek penggunaannya digunakan bersama-sama dengan bahan lain misalnya dicampur minyak untuk melarutkannya, air pengencer, tepung untuk mempermudah dalam pengenceran, penyebaran dan penyemprotannya.

Adapun bubuk yang dicampur sebagai pengencer dalam formulasi dustatraktan misal bahan feromon untuk pengumpan, bahan yang bersifat sinergis untuk menambah daya racunnya, dan lain sebagainya Tarumingkeng, Menurut Soemiratpestisida dapat diklasifikasikan berdasarkan organisme target, struktur kimia, mekanisme dan atau toksisitasnya. Klasifikasi berdasarkan organisme targetnya, adalah: Klasifikasi pestisida berdasarkan ketahanannya organofosfwt lingkungan, maka pestisida dapat dikelompokkan atas dua golongan yaitu: Resisten, dimana pestisida meninggalkan pengaruh terhadap lingkungan.

Pestisida organochlorine, termasuk pestisida keracunab resisten pada lingkungan organofosfaf meninggalkan residu yang terlalu lama dan dapat terakumulasi dalam jaringan melalui rantai makanan, contohnya DDT, Cyclodienes, Hexachlorocyclohexane HCHendrin.

Kurang Resisten, adalah pestisida yang mempunyai pengaruh efektif hanya sesaat saja, dan cepat terdegradasi di tanah. Pestisida organofosfate merupakan pestisida yang kurang resisten, contoh Disulfoton, Parathion, Diazinon, Azodrin, Gophacide, dan lain-lain Sudarmo, Departemen Kesehatanmenyatakan bahwa persentase penggunaan pestisida di Indonesia adalah sebagai berikut: Insektisida Pestisida dengan jenis insektisida memiliki angka presentase tertinggi di Indonesia.

  100 GODINA SAMOCE PDF

Hal ini dikarenakan pemakaiannya untuk lahan pertanian.

Jurnal e-CliniC (eCl)

Pestisida dengan jenis insektisida ini dapat diklasifikasikan atas dasar rumus kimia, mekanisme kerja dan jenis racun. Menurut Ecobichon, dalam Ruchirawatklasifikasi insektisida berdasarkan rumus kimianya: Organochlorin, golongan ini terdiri atas ikatan karbon, klorin, dan hydrogen.

Insektisida jenis ini masih digunakan di negara-negara yang sedang berkembang terutama pada daerah ekuator, karena murah, daya kerja yang efektif dan sifatnya yang resisten.

Orgqnofosfat dibagi dibagi dalam beberapa bagian: Siklodin, misal aldrin, dieldrin, heptachlor, chlordane dan endosufan. Gejala Keracunan Akut dan Kronis akibat Organochlorin Kelas Insektisida Gejala Akut Gejala Khronis Diklorodifeniletan DDT DDD DMC Dicofol Methoksiklor Klorbenzilat Paresthesia, ataksia, berjalan tidak normal, pusing, sakit kepala, mual, lemah, letargi, tremor Kehilangan keracujan badan, napsu makan berkurang, kurang darah, tremor, otot lemah, pola EEG berubah, hipereksitabilitas, cemas tekanan saraf Heksaklorosiklohexane Lindane isomer gamma Benzene hexakloride mixed isomer Pusing, sakit kepala, mual, muntah, motor hiopereksitabilitas hipereflexia, kejang otot, rasa sakit menyeluruh, kejang — kejang, organofosdat sawan Pusing, sakit kepala, hipereksitabilitas, hiperrefleksia, kejang otot, psikologis, termasuk insomnia, cemas, irritabilitas, pola EEC berubah, kehilangan kesadaran, epilepsi, sawan.

Siklodin Endrin Telodrin Isodrin Endosulfan Heptachlor Aldrin Dieldrin Klordane Toxafene Klordekon kepone Hirex Rasa sakit pada dada, arthralgia, iritasi kulit, ataxia, tidak ada koordinasi, bicara kurang jelas, penglihatan terganggu, kehilangan memori terkini, depresi, kelemahan pada otot, tremor pada tangan, spermatogenesis sangat terganggu Sumber: Struktur kimia Organochlorin 2.

Organofosfat, golongan ini terdiri dari ikatan karbon dan fosfat. Struktur Kimia Organofosfat Karbamat Gambar 3. Struktur Kimia Karbamat 4. Piretroid, terbagi menjadi dua jenis: Piretroid alam, Piretrum merupakan insektisida alami terbuat dari ekstrak bunga chrysantheum, Phyretrum cinerariaefollium Dalmatian insect flower.

Insektisida ini sangat efektif. Merupakan racun syaraf, meskipun toksisitasnya jarang terlihat pada mamalia. Gejala keracunan akibat piretroid ini adalah parestesia kebal, kesemutan pada kuliteksitasi saraf, tremor, konvulsi, paralisis dan kematian.

Piretroid sintetik, sintetik ester dapat dibagi menjadi 2 sub golongan yang didasarkan pada struktur dan gejala organoofsfat, yaitu: Klasifikasi insektisida berdasarkan mekanisme kerjanya: Organoklorin dan piretroid 2. Jenis insektisida ini sering disebut sebagai insektisida antikolinesterase, karena keduanya memiliki efek yang sama dalam sistem syaraf perifer dan pusatwalaupun masing-masing memiliki ikatan dan struktur kimia yang berbeda.

Gejala keracunan insektisida jenis organofosfat, dijelaskan pada Tabel 3. Gangguan Keracunan Organofosfat Jaringan saraf dan reseptor Tempat Manifestasi Parasimaptik dan otonom reseptor muskarinik paska ganglionik neuron Kelenjar exocrine Mata Peningkatan kelenjar ludah, kelenjar air mata, berkeringat, miosis, ptosis, penglihatan kabur, organofosfa merah, air mata berdarah Saluran pencernaan Mual, muntah, sakit keracnan belakang, diare, buang air tidak menentu, pembekakan dan kram, tenesmus Saluran pernafasan Excessive bronchial secretion, rhinorrhea, wheezing, pembengkakan, dada tertekan, bronchospasms, bronchoconstriction, batuk, bradypnea, dypspnea.

Otak reseptor asetilkoline Sistem syaraf pusat Mengantuk, lemah, bingung, tidak dapat konsentrasisakit kepala, tekanan pada kepala, kelemahan menyeluruh, coma tanpa reflek, tremor, respirasi cheyne-stokes, dispnea, konvulsi, depresi pada pusat pernafasan, sianosis.

Ecobichon dalam Ruchirawat, Sedangkan klasifikasi insektisida berdasarkan jenis racunnya yaitu: Racun sistemik yaitu racun yang dapat menimbulkan keracunan di seluruh tubuh. Racun kontak yaitu oranofosfat yang dapat diserap bila ada kontak kulit dengan insektisida. Klasifikasi insektisida ditinjau dari mekanisme terjadinya efek, dapat dilihat pada Tabel 4 berikut Tabel 4.

Menghasilkan negatif potensial yang lama dengan menginhibisi enzim, yang diperlukan untuk keraacunan ion, hasilnya adalah resisten depolarisasi Siklodin, derivativ sikloheksan Umumnya terjadi pada SSP dengan organofosaft ion transport enzim dan memblok GABA, termasuk dalam transport klorida, menghasilkan ikatan polar yang resisten.

Piretroid Piretroid alamiah Sama dengan piretroid buatan dibawah, tetapi juga menyebabkan reaksi alergi Piretroid buatan tipe I Menghasilkan potensial negatif lebih lama, sebagian dari sistem perifer saraf, hampir sama dengan DDT.

Inhibisi transport, menyebabkan ikatan polar yang resisten. Anti kolinesterase Organofosfat Inhibisi pada jaringan saraf asetilkolinesterase AchE terjadi, pada keadaan asetilkolin yang tinggi yang tidak organorosfat didegradasi keracunam rangsangan berlebih. Karbamat Berbeda sedikit dalam gejala, karbamat manginhibisi AchE secara reversible, organofosfat menginhibisi menjadi lebih resisten. Herbisida Herbisida berfungsi untuk mengendalikan dan membunuh gulma. Termasuk di dalamnya berbagai jenis ikatan kimia, seperti karbamat, phenol, triazines, anilin, asam amino dan lain-lain.

  ACV LACUNAR PDF

Pada umumnya herbisida menunjukkan toksisitas yang rendah pada vertebrata, tetapi senyawa bispiridil atau biasa disebut sebagai paraquat dan diquat sangat beracun. Herbisida berupa asam kuat, amin, ester atau fenol yang dapat menimbulkan iritasi pada kulit dan dermatitis Notodarmojo, Fungisida Bahan yang digunakan secara ekstensif sebelum dan sesudah panen, untuk mencegah terjadinya kerusakan pada tumbuhan akibat spora fungi, pada kondisi di bawah optimum terutama kelembaban dan temperatur.

Fungisida biasanya menyebabkan efek akut pada manusia dengan Orgajofosfat Bila terpapar oleh fungisida, maka akan terjadi iritasi dan dermatitis. Kebanyakan fungisida dapat menyebabkan iritasi pada saluran pernafasan, selaput lendir, membran mata, dan hidung. Semua bersifat sitotoksik, dan karena mutagenik dapat menyebabkan mutasi, kanker dan teratogenik.

[Organophosphate insecticide poisoning]. [Indonesian]

Beberapa fungisida yang umum digunakan adalah ditiokarbamat, terutama etilen bisditio karbamat kelompok yang didegredasi menjadi etilen tio urea yang diketahui sebagai anti tiroid, zat mutagenik, karsinogenik dan teratogenik. Merkuri organik beracun bagi hati, ginjal dan terutama pada sistem syaraf pusat dan perifer.

Salah satu diantaranya menyebabkan penyakit Minamata. Rodentisida Pengawasan binatang pengerat merupakan aspek yang sangat penting pada saat sebelum dan sesudah panen, juga untuk mengawasi penyakit. Rodentisida tersusun dalam berbagai struktur kimia yang mekanisme kerjanya juga bervariasi tergantung pada spesies yang menjadi targetnya.

Bila secara kebetulan maupun sengaja termakan, rodentisida bisa mengakibatkan keracunan yang serius terutama karena dosisnya yang tinggi, sehingga menimbulkan gejala yang parah dan tidak ada antidotumnya. Beberapa jenis rodentisida adalah: Zink phosphide Zn3P2merupakan rodentisida yang murah dan efektif, bila termakan ataupun bereaksi dengan air akan melepaskan phosphine, tidak stabil dan merupakan molekul reaktif yang menyebabkan kerusakan membrane sel.

Fluoro asetat, berbau dan berasa. Mudah terserap pada usus dan menginhibisi enzym, umumnya terhadap semua spesies yang termasuk dalam metabolisme glukosa, akhirnya menimbulkan efek terhadap jaringan yang menyimpan energi. Alfa naftil tiourea, harus diaktifkan dalam jaringan agar reaktif dan merupakan racun sedang yang menyebabkan pelebaran cairan pada bagian luar sel yang berada pada paru-paru, sehingga dapat menyebabkan kerusakan pada peredaran darah.

Menyebabkan pendarahan pada hidung, saluran pencernaan dan juga persendian. Fumigan Fumigan merupakan kelompok zat yang dapat mudah menguap secara alamiah. Beberapa fumigan berada dalam bentuk gas pada temperatur ruang dan yang lain dalam bentuk cair dan padat. Fumigan umumnya mudah diserap oleh kulit, saluran pernafasan dan saluran pencernaan.

Bila mata terpapar oleh fumigan, maka akan menyebabkan korosi pada kornea. Absorbsi kulit akan menimbulkan edema pada paru-paru.

Organophosphate poisoning in Ongole cattle in Sukamandi | Sani | Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner

Pestisida memiliki cukup banyak dampak yang sangat merugikan bagi kehidupan manusia dan lingkungan pertanian. Bagaimana cara untuk tetap menggunakan pestisida, guna membantu mempertahankan produksi hasil panen namun tidak menimbulkan pencemaran terhadap lingkungan, hasil panen dan berdampak buruk terhadap kesehatan.

Perlu dipikirkan suatu manajemen dalam penggunaan pestisida secara baik dan benar. Residu Insektisida dalam Tanah Penyemprotan pestisida akan berada di udara yang lama kelamaan akan jatuh ke tanah.

Untuk jenis pestisida yang tidak mudah menguap akan berada di dalam tanah terutama dari golongan organoklorin karena sifatnya yang persisten. Walaupun pestisida di dalam tanah dapat diuraikan atau didegradasi oleh mikroorganisme.

Seperti fenitrothion dapat terdegradasi oleh Bacillus subtilis menjadi aminofenitrothion. Tanah di daerah Lembang dan di Gambung-Bandung mengandung residu jenis pestisida Klorpirifos dengan konsentrasi antara 0, ppm dalam tanah Lembang dan 0, ppm dalam tanah Bgambung Rosliana,